Khamis, 28 Mei 2015

~Cebu City- one of my dream list~


 Indah bukan gambar ini? Kredit kepada si tukang snap...(Tak tawu namanya sebab amik kat google jek) hihihi

Inilah Cebu City, antara bandar yang menjadi tarikan di Manila, Filiphina...
 Sewaktu menyiapkan Arianna Anabella, terasa diri bagaikan telah memijak bumi bekas jajahan Sepanyol ini. Blog demi blog yang dilawati untuk mencari maklumat, membuatkan hati sentiasa teringat dengan bandar ini...

Mungkin ada yang berkata, Malaysia pun apa kurangnya, namun jauh pandangan luas pandangan bukan?
Kalau diberikan list tempat yang ingin dijejakan kaki, pasti Manila tersenarai. 
"Gayunpaman maligayang pagdating sa Maynila..." bahasa Tagalog yang bermaksud selamat datang ke Manila ini telah terhafal sepanjang setahun lebih ini. Jauh di sudut hati, ingin sekali mempelajari Bahasa Tagalog, Bahasa Kebangsaan negara ini, namun... rasanya faktor usia pasti membataskan segalanya. Habis kismis minda di pasaran kalau nak mula menghafal kembali!

So... bisik pada diri, teruskan berusaha, kumpul apa yang patut and...fly to that city. Hope... one day, akan ada picture-picture yang dikongsikan di sini, picture yang di snap sewaktu kaki berdiri di bumi Manila dan langit Filiphina menjadi payung. Insya-Allah...
~Vivianuzaura... Manjadda Wajadda~


Rabu, 27 Mei 2015

~SINGKAPAN TABIR MEMORI~








Resah menggamit
tatkala tabir memori silam tersingkap.
Tika itu...

hilai tawamu mengisi suasana 
Gurau sendamu menceriakan sentiasa...

Keriangan waktu itu membuatkan segalanya indah sentiasa.

aku ingin mengembalikan itu semua,
aku ingin kehadiran dirimu yang ceria.

Namun kini...

Hanya kesakitan mengisi jasadmu
hanya erangan derita yang terbit dari bibirmu...

Maka bertelekulah aku bersama juraian mutiara jernih
Mengelus perlahan tanpa esakan suara
Kerna kesakitan menguasai batinku

tatkala melihatkan kesakitanmu.
seandainya bisa, aku ingin meraup kesakitanmu itu!
aku ingin menanggung sekali penderitaanmu itu!


Jauh di sudut hati, aku ingin dirimu kembali seperti dulu,
Bergurau bersenda tawa tanpa hadirnya air mata.
Namun...

Takdir DIA,tiada siapa yang bisa menghalangnya...
Bisakah kulabuhkan lagi tabir tawa riang tatkala matamu kutatap?


...Aku semakin kelelahan untuk terus mengukirkan senyuman...




~aku redhai biarpun terlalu sukar untukku melakonkan watak riang di hadapanmu~




~vivianurazura~
19/04/15 19:05pm
Perak.

~KABUS SENJA~






Gerimis menitis lagi lalu membasahi sang bumi yang sudahpun kebasahan.
langit menangis lagi lalu menurunkan air jernih
berupa rahmat yang dinanti penghuni cakerawala...
Senja melabuhkan tirai lalu malam menjengah tiba
seiring sang nyamuk yang mula berlagu riang.

Dan aku....
Termanggu di tepi jendela sambil cuba mengintai jikalau ada yang mengirimkan rindu
buatku tatkala angin sejuk menampar pipiku bersama tempias gerimis....

Benarkah,
impian laksana kabus pagi,
Indah dipandang namun gagal digapai tangan?
Indah cuma luaran namun hilang bila tiba waktunya...


Terkadang...
lebih baik menyulam mimpi tatkala mata terpejam,
Kerna andai mata terbuka,
hanya derita mengisi hati tatkala mimpi berkecai di pertengahan...



~vivianurazura~
01/04/15 00:55 am
Perak.


~RINDU SEMALAM~



Meraba aku dalam kesamaran,
Menggagau aku dalam kegelapan,
Tercari-cari di mana dirimu,
Tertanya-tanya ke mana hilangmu,

Waima aku tahu, 
Engkau telah lama berlalu tingalkan aku
Dalam kesepian...
Kini yang tinggal cuma jiwaku,
Menguliti kenangan juga rindu semalam...

Puas sudah kupujuk mata, namun lenanya tak kunjung tiba...
Puas sudah kupujuk hati, namun ia tetap enggan meninggalkan sepi...
Lelah kumenghapus bayangan semalam,
Kerna aku tak mahu mencambahkan dendam...

Walau kupadam dian yang menyala,
namun andang di jiwaku tetap berbara...
Inginku koyak dan carikkan selimut malam, agar mimpiku tidak lagi suram...
Aku tak inginkan kehadiran cerita silammu lagi,
Aku tak ingin rindu semalam terusan menghampiri
aku tak ingin mengingati dirimu lagi!
Namun mengapa hati ini tetap tegar menangkis kemahuan akal?



~vivianurazura~
06/04/15 04:15am.
Perak.

~PESAN PADA DIRI~



Bila keindahan dan kecantikan lahiriah mula menguasai jiwa,
cubalah buka mata hatimu. 
Singkaplah hijab yang tertutup itu,
agar kamu bisa melihat apa yang tersembunyi melalui mata hati...

~berpesan pada diri...

yang cantik itu tak semestinya indah,
yang baik itu tak semestinya setia,
yang berbicara manis itu tak semestinya jujur dan yang buruk itu tak semestinya jahat.

~Cinta insani tiada yang kekal kecuali cinta DIA~




~vivianurazura~
28/05/15 02:10am





Assalamualaikum...

lama tidak menjengah, lama tidak 'mengupdate',
sekadar menyimpan segala catatan juga karya dalam satu folder di cik lappy sahaja.
kenapa? Masa yang sentiasa mencemburui, atau kegagalan dalam mengatur waktu sendiri? Hurmmm... Tepuk dada tanya iman...

Benar sekali firman Allah dalam Al-QURAN,
"Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian,
melainkan mereka yang beriman dan beramal soleh."

Dan sesungguhnya, itulah yang terjadi. Tak malu mengakui, kerana kegagalan pengaturan waktu membuatkan segalanya bercelaru.
Dan kehadiran, Nanti... Nanti.. Nanti...
menyebabkan segalanya tak teratur!

Sekian lama perkataan 'nanti' meniti di bibir, Alhamdulillah,
awal pagi ini tercoret jua apa yang tersimpan di ruang kecil kamar minda.
Berhabuk, berdebu, malahan mungkin berkarat kerana begitu lama disimpan,
namun tertinta jua di sini...


Bermuhasabah diri tatkala jemari ligat menekan huruf-huruf di dada cik lappy, kerana tinta ini sebenarnya luahan bisu tanpa suara. Huh, manusia, kesal pasti akan hadir setelah terlajak, dan kekesalan memenuhi hati kerana kealpaan dalam mengaturi waktu yang semakin pantas meninggalkan.

Usia semakin bertambah. Pendek kata, tak mustahil subsidi umur semakin berkurang,
namun sikap tak juga berubah!
Bukan tak tahu, tapi sengaja buat tak tahu!

Adeehhhh!
Rasanya dah puas memarahi diri sendiri, maka tugas yang tergendala tadi,
yakni mengupload coretan sepanjang hampir setengah tahun terbiar dalam cik lappy bakal bersambung.

Semoga coretan ini menjadi ingatan pada diri,
agar tidak alpa lagi dalam mengaturi waktu.
Terselit harapan kecil, andai ada yang terbaca, jadikan coretan ini sebagai pesanan dari teman atau saudara seagama.
Masa tidak menanti kita, namun kitalah yang mesti mengaturi masa...

~TIADA DAYA UPAYAKU MELAINKAN DENGAN IZINMU, YA ALLAH...~

~vivianurazura~
28/05/15 00:46am

~~ Ana Asifi ~~


Getik melihat perlakukan keji
sebu dihidangkan kelancangan bicara
rabak jiwa tatkala menyaksikan
sisa maruah yang tinggal diinjak-injak
amarah meraung melihat kerakusan
biarpun suara terkulum di halkum!

nian kepingin mengaut maruah yang telah hancur
nian mengidam mencantas kepala-kepala si pencabul
lalu menghirup titisan merah dan panas yang menitis
dari tubuh-tubuh yang menggeletik
agar tiba satu detik,
si pencabul durjana bisa mengerti
darahnya cukup dibutuhkan!

Tetapi...
keluhan mendatangi, tatkala menyedari,
tangan kaki dipasung dikunci perjanjian duniawi
maka,
perilaku 'pun terbatas
kebebasan 'pun dicantas
kemahuan terpangkas!

lalu ditinta cuma luahan rasa
waima jiwa gersang meronta,
tetap tiada berupaya
menjadi pembela...

...GAZA,
Ana Asifi
...أنا آسف إخواني الإسلامية
(mafkan aku saudara islamku...)



03 January 2015 05.25am

~DALAM KENANGAN~


Terleka seketika dek arus permodenan,
juga dengan kerancakkan perjalanan kehidupan,
perbagai dan pelbagai kemudahan,
tanpa sedar membuat diri semakin alpa,
kerna kemudahan itu bisa menghadirkan ketawa ria,
kerna mampu sampai ke awan dengan si burung besi,
kerna bisa menjejak seantero dunia andai poket berisi,
sehinggakan terlupa dengan fitrah hakiki,
yakni setiap yang berjiwa pasti merasai mati!

namun...
tatkala perginya beratus jiwa dalam sebuah tragedi
mulalah si polan-si polan menunding jari
bercakaran, berteriakan mencari salah sendiri
tanpa sedar membuka aib diri.

Mengapa mesti terlupa,
mengapakah mesti menjadi alpa?
untuk apa mencari salah siapa,
andai akal menujang segala?

Kembalilah kepada Si Pencipta,
kerana ada kemanisan seandainya direnungi semua
ada hikmah yang terselindung
di sebalik kabus dan juga mendung
akan ada satu jawapan
kerana soalan telah diutarakan.

Muhasabahlah diri
sisipkanlah doa di sudut hati
DIA tidak pernah tersalah pengaturan,
cuma hambaNYA tersalah tindakan.

Redhai apa yang terjadi
pasakkan ikhtibar di dalam diri
agar tidak terulang kembali
tragedi hitam seperti ini.

Sampaikan takziah,
kirimkanlah Al-Fatihah,
semoga mereka 'yang pergi' itu tenang,
kerana kita juga 'kan ikut bertandang,
tatkala 'saat itu' menjelang...

Mereka-mereka itu, kekal dalam kenangan...


21/05/15 2:00 am

~Cerita Dia dan Selimut Dambaannya~



~Cerita Dia dan Selimut Dambaannya~

Terbaring kelelahan
Mengerekot batang tubuhnya
Sehingga lutut bertemu dagu
Sehingga mengerutup giginya
Dia meraung tanpa bersuara
Menahan kesakitan dan derita
Sekadar ditemani air mata
Yang laju bercucuran
Membasahi pipi cengkungnya...

Kesakitan itu menjelma lagi buat dirinya
Raungan bisu dirinya bergema lagi
Lara dan derita yang seketika dahulu menghilang
Kini kembali menerobos dan menusuk lalu bermastautin di kamar jiwanya.
Sakitnya dia!
Deritanya dia!

Tatkala tubuhnya berkalih dalam kepayahan
Bibirnya yang lesu mengungkap nama Yang HAQ,
Memohon dalam bisikkan lemah
Supaya DIA mengirimkan malaikatNYA!
Dia merayu penuh kepayahan,
Semoga kesakitan duniawi yang ditanggungnya
Bisa terhenti dan terhapus tatkala selimut putih hadir menutupi jasad kakunya nanti...

Dia tahu...
Kesakitan yang ditanggungnya kini
Bisa menghapuskan dosa-dosa silamnya.
Dia tahu,
Yang HAQ menyaksikan segalanya
Dan dia juga tahu,
Yang HAQ sayangkan dirinya sehingga dia diuji sebegitu rupa!

Namun,
Dia seolah tidak mampu lagi menahan dan menahan derita
Iman nipisnya tidak berdaya lagi menerima Qhada dan QhadarNYA,
Tatkala rohnya sudah tidak terdaya
menelan lara yang berkampung di jiwanya!
Walaupun dia tahu
meminta pengakhiran dariNYA itu berdosa,
dia tetap berbisik dan berdoa!
biarpun dia tahu
pengakhiran itu merupakan permulaan kehidupan di Sana,
yang sejuta kali ganda peritnya dari dunia,
dia tegar meminta!

Dia tetap mahukan pengakhirannya.
Dia tetap mahu dilamar Izrail lalu bernikah dengan ajal!
kerna bagi dirinya,
itulah penamat segala kesakitan dan deritanya!

Bagi dia kini,
Hanya selimut putih yang didambakannya
Dan selimut dambaannya itu
Hanya akan hadir tatkala Izrail sudahpun melamarnya
Selimut dambaannya itu akan hadir
Untuk menyelimuti jasad kakunya setelah dia bernikah dengan ajalnya!

Hurmmm...
Nais benar dirinya...!

~vivianurazura~
06/01/15

23.55pm Perak.

~Murahkah Ia?


Deretan derita mendatangi
Ditelan penuh kesakitan
tidak mampu dikulum
Tidak mampu diluahkan
Tidak juga terzahir dalam bicara
Kerana wajah sering dihiasi tawa ceria
Kerna senyuman sering bertamu
Seiring lidah yang tidak pernah kelu
Mengungkap kata seolah gembira di hadapan semua.

Waima...
Saat bersendirian,
Pasti akan ada kehadiran
Titisan-titisan jernih yang mengalir laju menuruni lurah pipi
Empangan kelopak mata sentiasa pecah
lalu melimpahlah ia tanpa dipinta-pinta
Tumpahnya laksana ubat,
Seperti merawati rasa sakit dan derita yang tersenbunyi di kamar sepi jiwa.

Titisan-titisan itu,
Mengapakah acapkali hadir sebagai peneman
Dan ubat derita hati si Hawa?
Murah benarkah harga air mata kerana sentiasa hadir tanpa dipinta?
Murahkah ia kerana menjadi peneman sekeping hati yang lara?

Air mata,
Mengapakah seringkali menjadi peneman si Hawa?
Untuk apa ia hadir seolah merawat
Dan kemudiannya akan kembali bersembunyi
Berselindung di sebalik senyuman tatkala tirai hipokrasi dilabuhkan?

Murahkah ia kerana menabiri rasa sebenar yang bersarang di kamar jiwa?
Terlalu murahkah nilainya
kerana menjadikan si Hawa seorang pelakon di hadapan semua?
Murahkah nilai si air mata?
Murahkah ia?

~vivianurazura~
06/01/15
21.50 pm. Perak.

~Anak kecil dan cangkulnya~






Keringat menitis, membasahi tubuh kecil itu dek keterikan mentari
Kepedihan dan keperitan menjalari lalu menjamah tubuh dan ubun-ubunnya,
Namun kudrat kecil itu masih bersisa biarpun tubuhnya cengkung,
Kudrat itu masih merangkuli nafasnya biarpun hanya air hujan mengisi perut.
Cangkul terusan dihayun biarpun tidak setinggi mana,
Lantas terobeklah sang tandus lalu mengeluarkan sedikit isinya...

Dalam kelelahan dia mengukir senyum
Masih terngiang-ngiang di telinganya bicara ibu dan ayahnya,
Berbudi pada tanah ada afdalnya,
Berbudi pada tanah tiada ruginya.
Maka...
Dihayunkan lagi cangkulnya itu sambil mindanya merawang
Membayangkan apa yang mahu disemainya
Agar bisa dia menyuap mulut ibu dan ayahnya yang kini terlantar
Bertilamkan anyaman mengkuang reput, yang menunggu kepulangannya.

Dan, tanah sekangkang kera
Tapak pondok teduhan itu terus-terusan dirobeknya bersama kekentalan harapan,
Agar benih yang bakal disemai
Bisa mencorakan takdir baru dalam hidupnya
Waima esok belum pasti bisa tiba...

~vivianurazura~

27/05/15 17:30, Perak