Keringat
menitis, membasahi tubuh kecil itu dek keterikan mentari
Kepedihan
dan keperitan menjalari lalu menjamah tubuh dan ubun-ubunnya,
Namun
kudrat kecil itu masih bersisa biarpun tubuhnya cengkung,
Kudrat
itu masih merangkuli nafasnya biarpun hanya air hujan mengisi perut.
Cangkul
terusan dihayun biarpun tidak setinggi mana,
Lantas
terobeklah sang tandus lalu mengeluarkan sedikit isinya...
Dalam
kelelahan dia mengukir senyum
Masih
terngiang-ngiang di telinganya bicara ibu dan ayahnya,
Berbudi
pada tanah ada afdalnya,
Berbudi
pada tanah tiada ruginya.
Maka...
Dihayunkan
lagi cangkulnya itu sambil mindanya merawang
Membayangkan
apa yang mahu disemainya
Agar
bisa dia menyuap mulut ibu dan ayahnya yang kini terlantar
Bertilamkan
anyaman mengkuang reput, yang menunggu kepulangannya.
Dan,
tanah sekangkang kera
Tapak
pondok teduhan itu terus-terusan dirobeknya bersama kekentalan harapan,
Agar
benih yang bakal disemai
Bisa
mencorakan takdir baru dalam hidupnya
Waima
esok belum pasti bisa tiba...
~vivianurazura~
27/05/15
17:30, Perak
Tiada ulasan:
Catat Ulasan