Rabu, 27 Mei 2015

~Anak kecil dan cangkulnya~






Keringat menitis, membasahi tubuh kecil itu dek keterikan mentari
Kepedihan dan keperitan menjalari lalu menjamah tubuh dan ubun-ubunnya,
Namun kudrat kecil itu masih bersisa biarpun tubuhnya cengkung,
Kudrat itu masih merangkuli nafasnya biarpun hanya air hujan mengisi perut.
Cangkul terusan dihayun biarpun tidak setinggi mana,
Lantas terobeklah sang tandus lalu mengeluarkan sedikit isinya...

Dalam kelelahan dia mengukir senyum
Masih terngiang-ngiang di telinganya bicara ibu dan ayahnya,
Berbudi pada tanah ada afdalnya,
Berbudi pada tanah tiada ruginya.
Maka...
Dihayunkan lagi cangkulnya itu sambil mindanya merawang
Membayangkan apa yang mahu disemainya
Agar bisa dia menyuap mulut ibu dan ayahnya yang kini terlantar
Bertilamkan anyaman mengkuang reput, yang menunggu kepulangannya.

Dan, tanah sekangkang kera
Tapak pondok teduhan itu terus-terusan dirobeknya bersama kekentalan harapan,
Agar benih yang bakal disemai
Bisa mencorakan takdir baru dalam hidupnya
Waima esok belum pasti bisa tiba...

~vivianurazura~

27/05/15 17:30, Perak

Tiada ulasan:

Catat Ulasan